REAKSI ALKOHOL
Berdasarkan jenis atom karbon yang mengikat
gugus –OH, alkohol dibedakan atas alkohol primer, alkohol sekunder, dan alkohol
tersier. Dalam alkohol primer gugus –OH terikat pada atom karbon primer, pada
alkohol sekunder, gugus –OH terikat pada atom karbon sekunder, begitu pula pada
alkohol tersier, gugus –OH terikat pada atom karbon tersier.
Reaksi dengan logam aktif
Atom H dari gugus –OH dapat disubstitusi oleh
logam aktif seperti natrium dan kalium, membentuk alkoksida dan gas hidrogen.
Reaksi ini mirip dengan reaksi natrium dengan air, tetapi reaksi dengan air
berlangsung lebih cepat. Reaksi ini menunjukkan bahwa alkohol bersifat sebagai
asam lemah (lebih lemah daripada air).
Substitusi Gugus –OH oleh Halogen
Gugus –OH alkohol dapat disubstitusi oleh
atom halogen bila direaksikan dengan HX pekat, PX3 atau PX5 (X= halogen).
Oksidasi Alkohol
Alkohol
sederhana mudah terbakar membentuk gas karbon dioksida dan uap air. Oleh karena
itu, etanol digunakan sebagai bahan bakar spirtus (spiritus).
Dengan zat-zat pengoksidasi sedang, seperti
larutan K2Cr2O7 dalam lingkungan asam,
alkohol teroksidasi sebagai berikut:
Alkohol
primer membentuk aldehida dan dapat teroksidasi lebih lanjut membentuk asam
karboksilat.
Alkohol
sekunder membentuk keton.
Alkohol
tersier tidak teroksidasi.
Jika alkohol dipanaskan bersama asam sulfat
pekat akan mengalami dehidrasi (melepas molekul air) membentuk eter atau
alkena. Pemanasan pada suhu sekitar 1300C menghasilkan eter, sedangkan
pemanasan pada suhu sekitar 1800C menghasilkan alkena. Alkohol banyak digunakan dalam kehidupan
sehari-hari. Misalnya etanol digunakan sebagai pelarut sterilisasi alat
kedokteran, campuran minyak harum dan lainnya.
Reaksi alkohol
dan Fenol
1. Alkohol
v Bereaksi dengan asam karboksilat membentuk
ester
v Bereaksi dengan oksidator kuat
-
Alkohol primer membentuk aldehida kemudian oksidasi lanjut
membentuk asam karboksilat
-
Alkohol sekunder membentuk keton
-
Alkohol tersier tidak bereaksi
v Bereaksi dengan logam atau hidrida reduktor kuat reduktor kuat seperti Na atau
NaH membentuk R-ONa (Ntrium alkoksida)
v Etanol dengan asam kuat membentuk etilen dan
air
v Bereaksi dengan asam halida membentuk alkil halida
v Bereaksi dengan PX3 membentuk
alkil halida
v Bereaksi dengan asam sulfat membentuk alkil
hidrosulfat
2. Fenol
v Bereaksi dengan asam nitrat membentuk
p-nitrofenol
v Bereaksi dengan gas halogen membentuk 2,4,6 trihalofenol
v Bereaksi dengan basa kuat seperti NaOH membentuk garam natrium
fenoksida
Perbedaan
alkohol dan fenol
|
Fenol
|
Alkanol
|
|
Bersifat asam
|
Bersifat netral
|
|
Bereaksi dengan NaOH (basa), membentuk
garam natrium fenolat
|
Tidak bereaksi dengan basa
|
|
Tidak bereaksi dengan logam Na atau PX3
|
Bereaksi dengan logam Na atau PX3
|
|
Tidak bereaksi dengan RCOOH namun bereaksi
dengan asil halida (RCOX) membentuk ester
|
Bereaksi dengan RCOOH namun bereaksi dengan
asil halida (RCOX) membentuk ester
|
Reaksi-Reaksi
Senyawa Hidrokarbon15FEB
Suatu
senyawa alkana yang bereaksi dengan oksigen menghasilkan karbon dioksida dan
air disebut dengan reaksi pembakaran. Perhatikan persamaan reaksi oksidasi pada
senyawa hidrokarbon berikut.
CH4(g) + O2(g) → CO2(g) + H2O(g)
Reaksi pembakaran tersebut, pada dasarnya merupakan
reaksi oksidasi. Pada senyawa metana (CH4) dan karbon
dioksida (CO2) mengandung satu atom karbon. Kedua senyawa
tersebut harus memiliki bilangan oksidasi nol maka bilangan oksidasi atom
karbon pada senyawa metana adalah –4, sedangkan bilangan oksidasi atom karbon
pada senyawa karbon dioksida adalah +4.
Bilangan oksidasi
atom C pada senyawa karbon dioksida meningkat (mengalami oksidasi), sedangkan
bilangan oksidasi atom C pada senyawa metana menurun.
Senyawa
hidrokarbon menjadi lebih sulit terbakar apabila molekul-molekulnya semakin
besar. Ini karena molekul-molekul yang lebih besar tidak mudah menguap – reaksi
akan jauh lebih baik jika oksigen dan hidrokarbon bercampur sebagai gas. Jika
senyawa hidrokarbon dalam wujud cair tidak mudah menguap, maka hanya
molekul-molekul pada permukaan saja yang bisa bereaksi dengan oksigen.
Molekul-molekul yang lebih besar memiliki
gaya tarik Van der Waals yang lebih besar sehingga membuatnya lebih sulit untuk
terputus dari molekul tetangga dan sulit untuk membentuk gas.
Jika pembakaran berlangsung sempurna, semua
hidrokarbon akan terbakar dengan nyala biru. Akan tetapi, pembakaran cenderung
kurang sempurna apabila jumlah atom karbon dalam molekul meningkat. Ini berarti
bahwa semakin besar senyawa hidrokarbon, semakin besar kemungkinan diperoleh
nyala kuning yang berasap.
Pembakaran tidak sempurna
Pembakaran tidak sempurna (yakni jika tidak
terdapat cukup oksigen) bisa menyebabkan pembentukan karbon atau karbon
monoksida.
Penjelasan sederhana untuk raksi pembakaran
ini adalah, hidrogen dalam hidrokarbon mendapatkan kesempatan pertama untuk bereaksi
dengan oksigen, dan karbon hanya mendapatkan oksigen yang tersisa
Oksidasi
pada alkena antara lain
a.
Oksidasi oleh KMnO4 dalam suasana basa
berwarna ungu merah sedangkan dalam suasana asam berwarna ungu
b.
Oksidasi dengan bikromat dan KMnO4 dapat di
ketahiu letak ikatan rangkapnya karena yang terputus adalah ikatan rangkap tersebut
Permasalahan
:Mengapa fenol dapat bereaksi dengan basa sedangkan alkohol tidak,
padahal sama sama memiliki gugus OH?
Pada
oksidasi alkena dengan bikromat dan KMnO4,mengapa hanya pada alkena yang
berikatan rangkap di ujung yang akan menghasilkan karbondioksida dan uap air?
REAKSI ALKOHOL
Berdasarkan jenis atom karbon yang mengikat
gugus –OH, alkohol dibedakan atas alkohol primer, alkohol sekunder, dan alkohol
tersier. Dalam alkohol primer gugus –OH terikat pada atom karbon primer, pada
alkohol sekunder, gugus –OH terikat pada atom karbon sekunder, begitu pula pada
alkohol tersier, gugus –OH terikat pada atom karbon tersier.
Reaksi dengan logam aktif
Atom H dari gugus –OH dapat disubstitusi oleh
logam aktif seperti natrium dan kalium, membentuk alkoksida dan gas hidrogen.
Reaksi ini mirip dengan reaksi natrium dengan air, tetapi reaksi dengan air
berlangsung lebih cepat. Reaksi ini menunjukkan bahwa alkohol bersifat sebagai
asam lemah (lebih lemah daripada air).
Substitusi Gugus –OH oleh Halogen
Gugus –OH alkohol dapat disubstitusi oleh
atom halogen bila direaksikan dengan HX pekat, PX3 atau PX5 (X= halogen).
Oksidasi Alkohol
Alkohol
sederhana mudah terbakar membentuk gas karbon dioksida dan uap air. Oleh karena
itu, etanol digunakan sebagai bahan bakar spirtus (spiritus).
Dengan zat-zat pengoksidasi sedang, seperti
larutan K2Cr2O7 dalam lingkungan asam,
alkohol teroksidasi sebagai berikut:
Alkohol
primer membentuk aldehida dan dapat teroksidasi lebih lanjut membentuk asam
karboksilat.
Alkohol
sekunder membentuk keton.
Alkohol
tersier tidak teroksidasi.
Jika alkohol dipanaskan bersama asam sulfat
pekat akan mengalami dehidrasi (melepas molekul air) membentuk eter atau
alkena. Pemanasan pada suhu sekitar 1300C menghasilkan eter, sedangkan
pemanasan pada suhu sekitar 1800C menghasilkan alkena. Alkohol banyak digunakan dalam kehidupan
sehari-hari. Misalnya etanol digunakan sebagai pelarut sterilisasi alat
kedokteran, campuran minyak harum dan lainnya.
Reaksi alkohol
dan Fenol
1. Alkohol
v Bereaksi dengan asam karboksilat membentuk
ester
v Bereaksi dengan oksidator kuat
-
Alkohol primer membentuk aldehida kemudian oksidasi lanjut
membentuk asam karboksilat
-
Alkohol sekunder membentuk keton
-
Alkohol tersier tidak bereaksi
v Bereaksi dengan logam atau hidrida reduktor kuat reduktor kuat seperti Na atau
NaH membentuk R-ONa (Ntrium alkoksida)
v Etanol dengan asam kuat membentuk etilen dan
air
v Bereaksi dengan asam halida membentuk alkil halida
v Bereaksi dengan PX3 membentuk
alkil halida
v Bereaksi dengan asam sulfat membentuk alkil
hidrosulfat
2. Fenol
v Bereaksi dengan asam nitrat membentuk
p-nitrofenol
v Bereaksi dengan gas halogen membentuk 2,4,6 trihalofenol
v Bereaksi dengan basa kuat seperti NaOH membentuk garam natrium
fenoksida
Perbedaan
alkohol dan fenol
|
Fenol
|
Alkanol
|
|
Bersifat asam
|
Bersifat netral
|
|
Bereaksi dengan NaOH (basa), membentuk
garam natrium fenolat
|
Tidak bereaksi dengan basa
|
|
Tidak bereaksi dengan logam Na atau PX3
|
Bereaksi dengan logam Na atau PX3
|
|
Tidak bereaksi dengan RCOOH namun bereaksi
dengan asil halida (RCOX) membentuk ester
|
Bereaksi dengan RCOOH namun bereaksi dengan
asil halida (RCOX) membentuk ester
|
Reaksi-Reaksi
Senyawa Hidrokarbon
Suatu
senyawa alkana yang bereaksi dengan oksigen menghasilkan karbon dioksida dan
air disebut dengan reaksi pembakaran. Perhatikan persamaan reaksi oksidasi pada
senyawa hidrokarbon berikut.
CH4(g) + O2(g) → CO2(g) + H2O(g)
Reaksi pembakaran tersebut, pada dasarnya merupakan
reaksi oksidasi. Pada senyawa metana (CH4) dan karbon
dioksida (CO2) mengandung satu atom karbon. Kedua senyawa
tersebut harus memiliki bilangan oksidasi nol maka bilangan oksidasi atom
karbon pada senyawa metana adalah –4, sedangkan bilangan oksidasi atom karbon
pada senyawa karbon dioksida adalah +4.
Bilangan oksidasi
atom C pada senyawa karbon dioksida meningkat (mengalami oksidasi), sedangkan
bilangan oksidasi atom C pada senyawa metana menurun.
Senyawa
hidrokarbon menjadi lebih sulit terbakar apabila molekul-molekulnya semakin
besar. Ini karena molekul-molekul yang lebih besar tidak mudah menguap – reaksi
akan jauh lebih baik jika oksigen dan hidrokarbon bercampur sebagai gas. Jika
senyawa hidrokarbon dalam wujud cair tidak mudah menguap, maka hanya
molekul-molekul pada permukaan saja yang bisa bereaksi dengan oksigen.
Molekul-molekul yang lebih besar memiliki
gaya tarik Van der Waals yang lebih besar sehingga membuatnya lebih sulit untuk
terputus dari molekul tetangga dan sulit untuk membentuk gas.
Jika pembakaran berlangsung sempurna, semua
hidrokarbon akan terbakar dengan nyala biru. Akan tetapi, pembakaran cenderung
kurang sempurna apabila jumlah atom karbon dalam molekul meningkat. Ini berarti
bahwa semakin besar senyawa hidrokarbon, semakin besar kemungkinan diperoleh
nyala kuning yang berasap.
Pembakaran tidak sempurna
Pembakaran tidak sempurna (yakni jika tidak
terdapat cukup oksigen) bisa menyebabkan pembentukan karbon atau karbon
monoksida.
Penjelasan sederhana untuk raksi pembakaran
ini adalah, hidrogen dalam hidrokarbon mendapatkan kesempatan pertama untuk bereaksi
dengan oksigen, dan karbon hanya mendapatkan oksigen yang tersisa
Oksidasi
pada alkena antara lain
a.
Oksidasi oleh KMnO4 dalam suasana basa
berwarna ungu merah sedangkan dalam suasana asam berwarna ungu
b.
Oksidasi dengan bikromat dan KMnO4 dapat di
ketahiu letak ikatan rangkapnya karena yang terputus adalah ikatan rangkap tersebut
Permasalahan
:Mengapa fenol dapat bereaksi dengan basa sedangkan alkohol tidak,
padahal sama sama memiliki gugus OH?
Pada
oksidasi alkena dengan bikromat dan KMnO4,mengapa hanya pada alkena yang
berikatan rangkap di ujung yang akan menghasilkan karbondioksida dan uap air?